Peristiwa
akresi dan abrasi dapat terjadi karena adanya variasi kondisi
oseanografi. Kondisi oseanografi fisika di kawasan pesisir dan laut
dapat digambarkan oleh terjadinya fenomena alam seperti terjadinya
pasang surut, arus, kondisi suhu dan salinitas serta angin. Fenomena
tersebut memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan pesisir dan
lautan sehingga menyebabkan terjadinya kondisi fisik perairan yang
berbeda-beda. Wilayah pantai memiliki dinamika perairan yang kompleks.
Proses-proses utama yang sering terjadi meliputi sirkulasi massa air,
percampuran (terutama antara dua massa air yang berbeda), sedimentasi
dan erosi, dan upwelling.
Proses tersebut terjadi karena adanya interaksi antara berbagai komponen
seperti daratan, laut, dan atmosfir (Putinella, 2002). Adapun
komponen-komponen tersebut antara lain seperti pasang surut, gelombang,
arus, angin, struktur geologi pantai, kemiringan dan arah garis pantai.
1) Pasang Surut
Pengaruh
gaya tarik bulan dan matahari mengakibatkan air laut di sepanjang
pantai menjadi naik (air pasang) pada saat bersamaan di sepanjang pantai
bagian bumi yang lainnya mengalami penurunan muka air laut (air surut).
Gaya tarik bulan terhadap timbulnya gelombang pasang besarnya 2,5 kali
lebih kuat dari pada gaya tarik matahari karena posisi bulan jauh lebih
dekat dibandingkan dengan matahari. Ketinggian maksimum gelombang pasang
terjadi di daerah khatulistiwa beriklim tropis dan daerah sub tropis.
(Mulyo, 2004).
Pasang
terutama disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara dua tenaga
yang terjadi di lautan, yang berasal dari gaya sentrifugal yang
disebabkan oleh perputaran bumi pada sumbunya dan gaya gravitasi yang
berasal dari bulan. Gaya sentrifugal adalah suatu gaya yang didesak ke
arah luar dari pusat bumi yang besarnya lebih kurang sama dengan tenaga
yang ditarik ke permukaan bumi.
Gaya
gravitasi juga mempengaruhi terjadinya pasang walaupun tenaga yang
ditimbulkan terhadap lautan hanya sekitar 47% dari tenaga yang
dihasilkan oleh gaya gravitasi bulan. Selain itu faktor-faktor setempat
seperti bentuk dasar lautan dan massa daratan di sekitarnya kemungkinan
menghalangi aliran air yang dapat berakibat luas terhadap sifat-sifat
pasang (Hutabarat dan Evans, 1985).
Ketika kedudukan matahari, bumi, bulan satu garis lurus (sudut 00).
Gaya tarik gabungan antara matahari dan bulan menghasilkan air pasang
yang lebih besar. Pasang yang terjadi pada saat itu biasa disebut pasang
purnama atau pasang tinggi yang dinamakan spiring tide. Pada waktu bulan seperempat dan tiga perempat, matahari dan bulan membentuk sudut 900,
sehingga gaya tarik keduanya saling melemah. Pasang yang terjadi pada
saat itu adalah pasang kecil atau pasang perbani yang dinamakan neap tide. (Rosmini, 2006).
Bentuk
pasang surut di berbagai daerah tidak sama. Di suatu daerah dalam satu
hari dapat terjadi satu kali atau dua kali pasang surut. Secara umum
pasang surut di berbagai daerah dibedakan dalam empat tipe:
a) Pasang surut harian ganda (semi diurnal tide),
yaitu dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air
surut, dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi secara
berurutan secara teratur. Periode pasang surut rata-rata adalah 12 jam
24 menit. Pasang surut jenis ini terdapat di selat Malaka sampai laut
Andaman.
b) Pasang surut harian tunggal (diurnal tide),
yaitu dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air
surut. Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit. Pasang surut tipe
ini terjadi diperairkan selat Karimata.
c) Pasang surut campuran condong ke hari ganda (mixed tide prevailing semidiurnal),
yaitu dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air
surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda. Pasang surut jenis ini
banyak terdapat di perairan Indonesia Timur.
d) Pasang surut campuran condong ke hari tunggal (mixed tide prevailing diurnal),
dimana pada tipe ini dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan
satu kali air surut, tetapi kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi
dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda. Pasang
surut jenis ini terdapat di selat Kalimantan dan Pantai Utara Jawa
Barat.
Pengaruh
gaya pasang surut mempengaruhi peristiwa abrasi dan sedimentasi.
Wilayah pantai yang mengalami peristiwa pasang surut harian ganda atau
pasut surut tipe campuran condong ke ganda memiliki pengaruh yang
berbeda dengan wilayah pantai yang hanya mengalami pasang surut harian
tunggal, dimana wilayah yang memiliki pasang surut tipe harian ganda dan
campuran condong ke ganda mengalami proses transportasi sedimen yang
lebih dinamis jika dibandingkan dengan pasang surut harian tunggal.
Selain
tipe pasang surut, perbedaan lama waktu antara pasang dan surut juga
mempengaruhi peristiwa abrasi sedimentasi. Kawasan pantai yang mengalami
proses pasang yang cenderung lebih lama dari waktu surut, akan
berakibat memberikan peluang waktu yang lebih banyak bagi gelombang
untuk mengabrasi wilayah daratan.
2) Gelombang
Gelombang
laut adalah gerakan melingkar molekul-molekul air yang tampak sebagai
gerakan naik turun. Gelombang laut disebabkan oleh angin yang berhembus
pada permukaan laut yang mendesak air laut.
Menurut
Dahuri (1996), ombak merupakan salah satu penyebab yang berperan besar
dalam pembentukan pantai, baik pantai abrasi maupun pantai sedimentasi.
Ombak yang terjadi di laut dalam pada umumnya tidak berpengaruh terhadap
dasar laut dan sedimen yang terdapat di dalamnya. Sebaliknya ombak yang
terdapat di dekat pantai, terutama di daerah pecahan ombak mempunyai
energi besar dan sangat berperan dalam pembentukan morfologi pantai,
seperti menyeret sedimen (umumnya pasir dan kerikil) yang ada di dasar
laut untuk ditumpuk dalam bentuk gosong pasir. Di samping mengangkut
sedimen dasar, ombak berperan sangat dominan dalam menghancurkan daratan
(abrasi laut). Daya penghancur ombak terhadap daratan/batuan
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain keterjalan garis pantai,
kekerasan batuan, rekahan pada batuan, kedalaman laut di depan pantai,
bentuk pantai, terdapat atau tidaknya penghalang di muka pantai dan
sebagainya.
Gelombang
yang ditemukan di permukaan laut pada umumnya terbentuk karena adanya
proses alih energi dari angin ke permukaan laut, atau pada saat tertentu
disebabkan oleh gempa di dasar laut. Gelombang ini merambat ke segala
arah membawa energi tersebut kemudian dilepaskannya ke pantai dalam
bentuk hempasan ombak. Rambatan gelombang ini dapat menempuh jarak
ribuan kilometer sebelum mencapai suatu pantai. Gelombang yang mendekati
pantai akan mengalami pembiasan (refraction), dan akan memusat (covergence) jika mendekati semenanjung, dan akan menyebar (divergence) jika menemui cekungan. Di samping itu gelombang yang menuju perairan dangkal akan mengalami spilling, plunging atau surging. Semua fenomena yang dialami gelombang tersebut pada hakekatnya disebabkan oleh topografi dasar lautnya (sea bottom topography). (Dahuri, 1996).
Tipe gelombang spilling
terjadi jika gelombang yang memiliki kemiringan kecil menuju pantai
yang datar. Pada jarak yang jauh dari pantai, gelombang tersebut mulai
pecah secara berangsur-angsur menghasilkan buih pada pada puncak
gelombang dan meninggalkan suatu lapis tipis buih pada jarak yang cukup
panjang.
Tipe gelombang plunging
terjadi jika kemiringan gelombang dan dasar bertambah. Gelombang yang
pecah dengan puncak gelombangnya akan terjun ke depan dan energinya
dihancurkan dalam turbulensi yang mana sebagian kecil akan dipantulkan
pantai ke laut dan tidak banyak gelombang baru yang terjadi pada air
yang lebih dangkal.
Tipe gelombang pecah surging
terjadi pada pantai yang memiliki kemiringan yang sangat besar, seperti
pada pantai berkarang. Tipe ini memiliki daerah gelombang pecah yang
sangat sempit dibandingkan dengan dua tipe lainnya dan sebagian besar
energi yang dimiliki dipantulkan kembali ke laut dalam dan sebelum
puncak gelombang terjun ke depan, dasar gelombangnya sudah pecah
(Hutabarat dan Evans, 1985).
3) Arus
Arus adalah
gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horisontal massa air.
Sistem-sistem arus laut utama dihasilkan oleh beberapa daerah angin
utama yang berbeda satu sama lain, mengikuti garis lintang sekeliling
dunia dan di masing-masing daerah ini angin secara terus menerus bertiup
dengan arah yang tidak berubah-ubah (Nybakken, 1988 dalam Putinella,
2002).
Berbeda
dengan ombak yang bergerak maju ke arah pantai, arus laut, terutama
yang mengalir sepanjang pantai merupakan penyebab utama yang lain dalam
membentuk morfologi pantai. Arus laut terbentuk oleh angin yang bertiup
dalam selang waktu yang lama, dapat pula terjadi karena ombak yang
membentur pantai secara miring. Berbeda dengan peran ombak yang
mengangkut sedimen tegak lurus terhadap arah ombak, arus laut mampu
membawa sedimen yang mengapung maupun yang terdapat di dasar laut.
Pergerakan sedimen searah dengan arah pergerakan arus, umumnya menyebar
sepanjang garis pantai. Bentuk morfologi spit, tombolo, beach ridge atau akumulasi sedimen di sekitar jetty dan tanggul pantai menunjukkan hasil kerja arus laut.
Pola
arus pantai ditentukan terutama oleh besarnya sudut yang dibentuk
antara gelombang yang datang dengan garis pantai. Jika sudut datang itu
cukup besar, maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current)
yang disebabkan oleh perbedaan tekanan hidrostatik. Jika sudut datang
relatif kecil atau sama dengan nol (gelombang yang datang sejajar dengan
pantai), maka akan terbentuk arus meretas pantai (rip current)
dengan arah menjauhi pantai di samping terbentuknya arus menyusur
pantai. Diantara kedua jenis arus pantai ini, arus menyusur pantailah
yang mempunyai pengaruh lebih besar terhadap transportasi sedimen pantai
(Dahuri, 1996).
Selain faktor angin, arus juga dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu :
a) Bentuk
topografi dasar lautan dan pulau-pulau yang ada di sekitarnya. Beberapa
sistem lautan utama di dunia dibatasi oleh massa daratan dari tiga sisi
dan pula oleh arus ekuator counter di sisi yang keempat. Batas-batas
ini menghasilkan sistem aliran yaitu hampir tertutup dan cenderung
membuat aliran air mengarah dalam suatu bentuk bulatan. Dari sinilah
terbentuk gyre (arus berputar) (Hutabarat dan Evans, 1984).
b) Efek
Coriolis atau gaya Coriolis. Gaya Coriolis adalah gaya semu yang
ditimbulkan akibat efek dua gaya gerakan. Yaitu gerakan rotasi bumi dan
gerakan benda relatif terhadap permukaan bumi. Gaya ini menyebabkan
terjadinya perpindahan zat cair di belahan bumi utara di belokkan ke
kanan dan di belahan bumi selatan dibelokkan ke kiri (Kanginan, 1999)
c) Spiral
Ekman atau perpindahan Ekman oleh V. walfrid Ekman, seorang ahli dari
Swedia, pada tahun 1982 menunjukkan secara matematis bahwa di bawah
kondisi samudra yang ideal akan menghasilkan sebuah pengurangan
kecepatan arus sistematis dan sebuah perubahan pada arahnya dalam
meningkatkan kedalaman (Rosmini, 2006).
Selain ketiga faktor di atas, gerakan air yang luas dapat diakibatkan oleh
perbedaan densitas lapisan lautan yang mempunyai kedalaman berbeda.
Perbedaan itu timbul terutama disebabkan oleh salinitas dan suhu
(Hutabarat dan Evans, 1984).
4) Angin
Angin
disebabkan karena adanya perbedaan tekanan udara yang merupakan hasil
dari pengaruh ketidakseimbangan pemanasan sinar matahari terhadap
tempat-tempat yang berbeda di permukaan bumi. Keadaan ini mengakibatkan
naiknya sejumlah besar massa udara yang ditandai dengan timbulnya sifat
khusus yaitu terdapatnya tekanan udara yang tinggi dan rendah. Sebagai
contoh, massa udara yang bertekanan tinggi dibentuk di atas
daerah-daerah kutub, sedangkan massa udara yang bertekanan rendah yang
kering dan panas terkumpul di daerah subtropik. Massa udara ini tidak
tetap tinggal pada tempat di mana mereka ini dibentuk, tetapi begitu
mereka melewati daerah daratan mereka akan tersesat oleh aliran angin
yang ditimbulkan dengan adanya perubahan dan variasi iklim setempat.
Massa udara yang bertekanan tinggi ini dikenal sebagai anti-cyclones ;
udara yang beredar di dalamnya berputar ke arah lawan jarum jam
(anti-clockwise) pada bagian belahan bumi sebelah Selatan, sedangkan di
belahan bumi sebelah Utara mereka berputar ke arah jarum jam (clockwise). Massa udara yang bertekanan rendah dinamakan cyclones.
Gerakan massa udara di dalamnya bergerak ke arah jarum jam di belahan
bumi Selatan dan ke arah lawan jarum jam di belahan bumi Utara.
Gelombang
yang terjadi di laut disebabkan oleh hembusan angin (Nontji, 1999).
Faktor yang mempengaruhi bentuk/besarnya gelombang yang disebabkan oleh
angin adalah: kecepatan angin, lamanya angin bertiup, kedalaman laut, dan luasnya perairan, serta fetch (F) yaitu jarak antara terjadinya angin sampai lokasi gelombang tersebut.
5) Sedimen Pantai
Sedimen
pantai adalah partikel-partikel yang berasal dari hasil pembongkaran
batuan-batuan dari daratan dan potongan-potongan kulit (shell)
serta sisa-sisa rangka-rangka organisme laut. Tidaklah mengherankan
jikalau ukuran partikel-partikel ini sangat ditentukan oleh sifat-sifat
fisik mereka dan akibatnya sedimen yang terdapat pada berbagai tempat di
dunia mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda satu sama lain.
Misalnya sebagian besar dasar laut yang dalam ditutupi oleh jenis
partikel yang berukuran kecil yang terdiri dari sedimen halus. Sedangkan
hampir semua pantai ditutupi oleh partikel berukuran besar yang terdiri
dari sedimen kasar.
Keseimbangan
antara sedimen yang dibawa sungai dengan kecepatan pengangkutan sedimen
di muara sungai akan menentukan berkembangnya dataran pantai. Apabila
jumlah sedimen yang dibawa ke laut dapat segera diangkut oleh ombak dan
arus laut, maka pantai akan dalam keadaan stabil. Sebaliknya apabila
jumlah sedimen melebihi kemampuan ombak dan arus laut dalam
pengangkutannya, maka dataran pantai akan bertambah (Putinella, 2002).
Ada beberapa klasifikasi sedimen berdasarkan ukuran butirnya, yaitu:
Berdasarkan asalnya sedimen dapat dibagi menjadi tiga bagian:
Keterangan
|
Ukuran (mm)
|
Boulders (batu kasar)
Gravel (kerikil)
Very course sand (pasir sangat kasar)
Course sand (pasir kasar)
Medium sand (pasir setengah kasar)
Fine sand (pasir halus)
Very fine sand (pasir sangat halus)
Silt (lanau, lumpur)
Clay (lempung)
|
> 265
2 – 265
1 – 2
0,5 – 1
0,25 – 0,5
0,125 – 0,25
0,0625 – 0,125
0,0039 – 0,0625
< 0,0039
|
Berdasarkan asalnya sedimen dapat dibagi menjadi tiga bagian:
a) Sedimen
lithogeneus, jenis sedimen ini berasal dari sisa pengikisan batu-batuan
di daratan, yang diangkut ke laut oleh sungai-sungai.
b) Sedimen
biogenus, jenis sedimen ini berasal dari sisa-sisa rangka dari
organisme hidup yang membentuk endapan partikel-partikel halus yang
dinamakan ooze yang biasanya diendapkan pada daerah yang jauh dari pantai. Sedimen ini digolongkan ke dalam dua tipe yaitu calcareous dan siliceous.
c) Sedimen
hidrogeneus. Jenis partikel dari sedimen golongan ini dibentuk sebagai
hasil reaksi kimia dalam air laut. (Hutabarat dan Evans, 1984).
6) Kemiringan dan Arah Garis Pantai
Pantai bisa terbentuk dari material dasar yang berupa lumpur, pasir atau kerikil (gravel).
Kemiringan dasar pantai tergantung pada bentuk dan ukuran material
dasar. Pantai lumpur mempunyai kemiringan sangat kecil sampai mencapai
1:5000. Kemiringan pantai pasir lebih besar yang berkisar antara 1:20
dan 1:50. Kemiringan pantai berkerikil bisa mencapai 1:4. Pantai
berlumpur banyak dijumpai di daerah pantai di mana banyak sungai yang
mengangkut sedimen suspensi bermuara di daerah tersebut dan gelombang
relatif kecil (Triatmodjo, 1999).
Arah
garis pantai dapat mempengaruhi energi gelombang dan kecepatan arus
susur pantai. Ketika arah datang gelombang tegak lurus dengan arah garis
pantai, maka energi gelombang yang bekerja dapat lebih maksimal dalam
melakukan proses abrasi. Sedangkan untuk arus susur pantai, kecepatannya
akan melemah ketika arah datangnya hampir tegak lurus dengan arah garis
pantai.
Komentar
Posting Komentar