Langsung ke konten utama

TENTANG FABS



Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki garis pantai yang panjang. Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Informasi Geospasial (BIG), garis pantai Indonesia memiliki panjang 99.093 kilometer yang merupakan daerah potensial pariwisata, ekonomi dan konservasi. Sebagai negara maritim tentunya Indonesia dituntut untuk bisa memanfaatkan potensi maritimnya sesuai dengan program Nawa Cita dari Presiden Joko Widodo.
Namun dewasa ini isu permasalahan lingkungan menjadi topik yang menjadi ancaman bagi berlangsungnya program tersebut. Abrasi pantai menjadi salah satu isu hangat yang mengancam wilayah pesisir di Indonesia. Seiring dengan naiknya permukaan air laut ditambah kondisi iklim yang tidak menentu menjadikan ancaman abrasi menjadi masalah kompleks yang melanda penduduk sekiar pantai.
Abrasi merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan pengikisan daerah pantai yang terjadi karena gelombang dan arus laut destruktif. Pengikisan pantai tersebut akan menyebabkan berkurangnya daerah pantai mulai dari yang paling dekat dengan air laut karena menjadi daerah pertama yang mengalami pengikisan.Faktor-faktor yang menyebabkan abrasi diantaranya adalah karena adanya pasang surut air laut, angin di atas lautan yang menghasilkan gelombang serta arus laut yang berkekuatan merusak.
Salah satu daerah yang terancam abrasi pantai di Indonesia adalah Kabupaten Tuban. Kabupaten Tuban yang memiliki wilayah pantai potensial juga mendapat ancaman dari adanya abrasi pantai yang semakin parah setiap tahunnya. Sekitar 105 hektar wilayah konservasi mangrove telah rusak akibat adanya abrasi. Bahkan dapat diprediksi 10 tahun lagi wilayah pantai di Tuban akan kehilangan wilayah pantainya. Data menunjukkan bahwa sejak tahun 1993-2009 Kabupaten Tuban telah kehilangan 3,6 juta m² wilayah pantainya. Adanya abrasi tersebut menjadi faktor yang menghambat pembangunan dan pengembangan kawasan ekonomi pesisir Kabupaten Tuban. Kawasan pesisir Kabupaten Tuban dalam berbagai rencana tata ruang direncanakan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Rata-rata setiap tahun abrasi memakan  5-6 meter wilayah pesisir dan dalam rentang tahun 2002-2012 total panjang pantai yang mengalami abrasi sebesar 7.630 m dengan total lebar abrasi sebesar 272 m.
Di sepanjang pesisir Kabupaten Tuban terdapat banyak infrastruktur dan pusat-pusat kegiatan, anatara lain jalan arteri primer Pantura yang menghubungkan Jawa Timur-Jawa Barat, pelabuhan, pergudangan, industri, permukiman, dan pariwisata. Kawasan pesisir tersebut kini terancam abrasi yang akan kehilangan wilayah pantai pesisirnya.
Maka dari itu perlu adanya solusi dalam mengatasi abrasi pantai tersebut, salah satunya adalah dengan menggunakan alat pemecah gelombang untuk mengurangi dampak abrasi yang mengancam wilayah pantai Tuban. Alat pemecah gelombang (Breakwater) merupakan alat yang dipasang di wilayah pantai untuk mengurangi efek gelombang pantai yang besar. Dalam hal ini penulis memiliki gagasan dengan membuat alat pemecah gelombang yang efektif dan efisien dengan menggunakan prinsip Internet of Thing untuk mengendalikannya. Alat ini juga dilengkapi dengan data dalam laporan kondisi gelombang pantai sebagai informasi yang dapat diakses oleh penduduk wilayah pesisir terutama nelayan sebagai pertimbangan dalam melaut. Selain itu dengan memanfaatkan energi dari adanya gelombang pantai ini juga dapat dijadikan sebagai pembangkit listrik dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Faktor-Faktor Abrasi dan Sedimentasi

Peristiwa akresi dan abrasi dapat terjadi karena adanya variasi kondisi oseanografi. Kondisi oseanografi fisika di kawasan pesisir dan laut dapat digambarkan oleh terjadinya fenomena alam seperti terjadinya pasang surut, arus, kondisi suhu dan salinitas serta angin. Fenomena tersebut memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan pesisir dan lautan sehingga menyebabkan terjadinya kondisi fisik perairan yang berbeda-beda. Wilayah pantai memiliki dinamika perairan yang kompleks.  Proses-proses utama yang sering terjadi meliputi sirkulasi massa air, percampuran (terutama antara dua massa air yang berbeda), sedimentasi dan erosi, dan upwelling .  Proses tersebut terjadi karena adanya interaksi antara berbagai komponen seperti daratan, laut, dan atmosfir (Putinella, 2002). Adapun komponen-komponen tersebut antara lain seperti pasang surut, gelombang, arus, angin, struktur geologi pantai, kemiringan dan arah garis pantai. 1)    Pasang Surut Pengaruh ga...